KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Hotline - 0251 8351853
  • SMS - 081290866440
  • BBM - DD089F6C
  • Whatsapp - 081290866440
  • kekecollection.marketing@gmail.com
Beranda » Artikel Terbaru » Berhijab Syar’i? Kenapa Tidak?

Berhijab Syar’i? Kenapa Tidak?

Diposting pada 20 April 2018 oleh adminkeke

Tidak bisa dipungkiri lagi, kaum muslim sekarang sedang menjadi sorotan baik diluar maupun di dalam negeri. Banyak berita yang memuat tentang umat Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya ini dapat menjadi sebuah momentum baik mengenalkan kepada masyarakat tentang Islam. Salah satunya dengan menunjukkan identitas seorang muslim yang sebenarnya lewat penampilan.

 

Apakah berbeda penampilan seorang muslim dan umat lainnya? Dalam hal ini tentu seorang muslim mempunya pegangan dalam hidupnya dalam menentukan kegiatan dan tingkah laku sehari-hari. Jangan sampai cara kita hidup, berpakian, dan tingkah laku kita tidak mencerminkan ketaatan seorang muslim, bukan hanya akan menjadi bumerang buat kita sendiri nantinya tapi juga ada ketegasan yang patut kita waspadai dari baginda besar Nabi Muhammad SAW menyangkut keikut-ikutan kita dalam berbagai hal, Nabi Muhammad SAW bersabda :

 

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

 

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

 

Pada hadist lain Rasulullah SAW berwasiat :

 

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

 

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

 

Nabi Muhammad SAW sangat menekankan di beberapa hadist lainnya dengan ketegasan bahayanya mengikuti gaya hidup suatu kaum diluar Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).

 

Dan dalam hadist lainnya, Beliau bersabda :

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

 

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

Tegaslah sudah, bahwa seorang muslim tidak boleh menyerupai umat lain, termasuk dalam gaya hidup sehari-hari. Dan yang sering menjadi sorotan diluar sana biasanya akan sangat terlihat untuk diri sorang akhwat. Kenapa karena banyak sekali yang Rasulullah SAW wasiatkan dan mewanti-wanti bahwa ada satu hal di diri seorang akhwat yang bisa menjerumuskannya kedalam Neraka, salah satunya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi adalah aurat.

 

A. Bahayanya Menghumbar Aurat

 

Banyak sekali kita dengar peristiwa yang mengeirikan terjadi diluar sana menyangkut masalah aurat kaum Hawa. Banyak yang menjadi bumerang sendiri bagi mereka yang terang-terangan dan dengan sengaja menunjukkan auratnya di depan publik. Sayangnya, banyak dari kita yag kurang memahami, atau sudah paham namun belum siap menjalankannya, bahkan diri kita sering sekali angkuh dengan mengatakan : “Tutup dahulu hatimu!”

Kenapa di artikel ini kami menegaskan bahwa itu sebuah keangkuhan? Karena sudah sangat jelas Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang berbunyi :

 

وَقُل لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُهُنَّ أَوِ التّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى اللَّـهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ

 

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nuur: 31)

 

Dalam ayat tersebut Allah SWT jelas memerintah kepada kaum muslim untuk menjaga dan menutupi auratnya, bukan memberikan pilihan boleh dan tidaknya menutup aurat. Karena bagaimana kita ketahui bersama bahwa aurat merupakan kunci pembuka untuk pintu maksiat yang lebih besar lagi. Karena itu Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan :

sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

 

Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, (yang pertama): Kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukuli orang-orang. Dan (yang kedua): Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menggoda dan jalannya berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Para wanita itu tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga padahal wanginya bisa tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.” (HR. Imam Muslim, hadits, no. 2128.)

 

Ternyata selain menghumbar syahwat, ternyata terang-terang menunjukkan auratnya kepada publik atau berpakian tapi membentuk lekuk tubuhnya, jangankan untuk masuk ke dalam surga, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa mereka itu tidak bisa mencium aroma surga, sesungguhnya aroma surga itu dapat tercium dari jarak yang luar biasa jauhnya.

 

B. Berhijab Syar’i, Yuk!

 

Sekarang kita telah mengetahui, bagaimana Allah SWT memerintahkan muslimah untuk berhijab, apa hukum dan sanksinya juga telah kita pahami. Lalu seperti apa menutup aurat yang sebenarnya?

Seperti yang sudah di kutip sebelumnya pada surat An-Nuur ayat ke 31, Allah SWT menegaskan bahwa hendaklah kamu muslimah menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada muhrimnya (suami, ayah, ayah dari suami, anak, saudara laki-laki, anak dari saudara laki-laki, anak dari saudara perempuan, wanita-wanita islam, dan anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita). Dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa kerudung (penutup aurat) harus sampai kepada dada seorang muslimah dan menutupi perhiasannya, apa yang dimaksud perhiasan tersebut?

Perhiasan di dalam bahasa Arab lazim disebut dengan istilah zînah. Cakupan pengertian perhiasaan tidak terbatas pada barang-barang yang dipakai. Akan tetapi, juga mencakup segala perbuatan untuk memperindah diri. Mengenakan perhiasan termasuk masalah duniawi, sehingga hukum asalnya, semua boleh kecuali yang dilarang. Bagi wanita Muslimah, perhiasan yang dibenarkan adalah sebagai berikut:

  • Mencuci rambut, meminyaki dan menyisirnya,.
  • Membersihkan gigi dengan siwak atau sikat gigi.
  • Mengenakan pakaian indah di hadapan suami. Adapun di hadapan orang lain, ia mengenakan pakaian yang menutupi aurat, bermodel biasa, dan tidak menarik perhatian.
  • Memakai minyak wangi pada tubuh atau pakaiannya untuk suaminya. Tapi, ia tidak boleh memakai wewangian pada waktu keluar rumah, berkabung, dan dalam kondisi ihram.

 

Kini jelas sudah bagaimana Islam mengatur segala suatunya dengan baik dan benar untuk menjaga umat juga agar terhindar dari hal-hal yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain yang melihatnya.

 

Jadi kenapa kita masih ragu untuk berhijab syar’i (berhijab sampai menjulur ke dada) dan mengenakan pakaian yang pantas (tidak menonjolkan lekuk tubuh), sehingga diri kita terhindar dari fitnah dan orang orang melihat kitapun terhindar dari zina mata dan hati.

Bagaimanapun juga Nabi Muhammad menegaskan dalam sabdanya :

 

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Setiap mata itu berzina. Dan jika seorang wanita memakai wewangian lalu ia melewati sekelompok laki-laki, maka dia (wanita itu) telah begini dan begitu. Maksudnya telah berbuat zina”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2786; dan lainnya)

Bagikan informasi tentang Berhijab Syar’i? Kenapa Tidak? kepada teman atau kerabat Anda.

Berhijab Syar’i? Kenapa Tidak? | Keke Collection

Belum ada komentar untuk Berhijab Syar’i? Kenapa Tidak?

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Temukan Kami
Cart
Kontak